Sabtu, 24 September 2016

Pelayanan Kesehatan Gratis Korban Banjir Bandang Garut

Banjir bandang Garut hampir seminggu berlalu, tapi keadaan warga korban bencana masih butuh bantuan. Perkampungan sudah mulai membaik, puing-puing sisa bencana sudah hampir selesai dirapikan oleh TNI, SAR, dan warga sekitar korban bencana.

"Kalau TNI yang turun tangan semua pasti selesai, kerjanya tidak setengah-setengah." Puji Dr. Joko yang datang bersama Dr. Syaif pada hari kedua pelayanan kesehatan Islamic Medical Service bekerjasama dengan BMH.

Pelayanan kesehatan gratis kembali dibuka pada 25 september di kampung cimacan. Beberapa relawan datang ke posko kesehatan karena luka di kaki dan tangan mereka akibat paku dan beling saat sedang merapikan rumah warga dari puing dan lumpur. Dokter dan tim medis sigap melayani mereka, pertolongan pertama langsung dilakukan. Membersihkan luka mereka dan merawatnya serta memberi obat agar luka cepat sembuh.

"Bagus kang ada posko disini, Alhamdulillah. Kalau ada yang luka seperti saya ini cepat ditangani." Ujar Maman, 34 tahun Relawan dari Hitbut Tahrir yang datang dari Bandung untuk membantu membersihkan rumah-rumah warga.

Hingga tengah hari sudah 27 pasien yang berhasil ditangani, masyarakat masih sibuk merapikan rumah tinggal mereka sehingga masih banyak yang belum sempat datang mengikuti pelayanan kesehatan.

Banjir Bandang Garut

Islamic Medical Service disokong oleh lembaga Amil Zakat nasional BMH mengadakan pengobatan serta penyerahan bantuan berupa kebutuhan pokok yang sedang diperlukan bagi masyarakat korban bencana banjir bandang garut berupa makanan dan pakaian juga bantuan pelayanan kesehatan serta kebutuhan obat-oabtan. Bencana banjir terjadi akibat curah hujan yang tinggi membuat tanggul tidak sanggup menahan beban mengakibatkan jebolnya tanggul bendung copong Garut, Jawa Barat.

Pengobatan menargetkan masyarakat kampung Cimacan Rt 04 Rw 10 Desa haur Panggung dan sekitarnya. Rumah warga jadi pilihan relawan Islamic Medical Service untuk disulap jadi klinik dadakan. Masyarakat datang perlahan mendaftarkan diri untuk mendapatkan pelayanan kesehatan gratis. Aksi akan dilakukan hingga sore hari, menargetkan masyarakat yang berada di posko-posko pengungsian.

Sabtu, 24 september diwaktu yang sama puluhan relawan BMH bersama dengan warga serta TNI turun ke lokasi bencana untuk memberikan bantuan tenaga membersihkan rumah warga yang masih dipenuhi lumpur serta barang-barang yang hanyut terbawa arus banjir.

Banjir bandang menyebabkan banyak kerugian. Banjir yang datang tiba-tiba pada selasa malam, membuat warga tidak siap sehingga tidak bisa menyelamatkan harta benda, bahkan sampai menyebabkan korban jiwa. Hingga hari ini masih ada korban jiwa yang belum ditemukan, polisi juga masih terus melakukan pencarian dengan anjing pelacak.

Minggu, 01 Mei 2016

Kisah sopir ambulans yang dijemput ajal saat menjemput jenazah

“PAK Khotib, siap?” Sunaryo berseru kepada rekannya, Mukhotib. Subuh hari, ambulans yang dibawanya meninggalkan klinik Islamic Medical Service (IMS), Jl Bekasi Timur, Jatinegara, Jakarta Timur.

Sunaryo dan Mukhotib selaku sopir dan pendamping ditugaskan oleh klinik milik sebuah lembaga kesehatan itu. Keduanya berangkat menuju sebuah rumah duka di Cilangkap, Depok, untuk menjemput jenazah keluarga dari salah seorang dai. “Semoga kita selamat sampai tujuan!” Sunaryo berdoa sembari melajukan ambulansnya.

Dalam perjalanan, tidak ada kemacetan atau gangguan apapun, semua berjalan dengan lancar. Sunaryo tampak sehat dan bersemangat seperti biasanya. Begitu juga dengan Mukhotib, tidak ada yang berbeda.

Di tengah perjalanan, tiba di Jl Raya Setu Cikampek, Sunaryo merasa pandangannya gelap, kepala pusing, perut mual. Ia pun muntah.

Belum sempat menghentikan kendaraan, ia sudah kehilangan kesadaran. Ambulans yang dibawanya pun tak terkontrol, lalu menabrak kendaraan di depannya. “Braakk!!”

“Sopir ambulance IMS, Bapak Sunaryo, diduga kena serangan jantung mendadak. Mobilnya mengalami kecelakaan di jalan saat mau menjemput jenazah keluarga Ustadz Hanafi. Beliau adalah salah satu sopir yang mengantar jenazah almarhum Ustadz Hasan Rofidi ke Surabaya,” pesan singkat yang informasinya bermula dari Mukhotib itu langsung tersiar ke segenap orang-orang di lingkungan kerja Sunaryo.

Mendengar kabar duka tersebut, sejumlah karyawan lembaga kesehatan itu langsung menyusul ke lokasi kecelakaan untuk memberi pertolongan. Sunaryo yang sudah kehilangan kesadaran langsung dibawa ke klinik terdekat.

Namun, karena peralatan medis di sini tidak memadai, dokter menyarankan agar Sunaryo dirujuk ke rumah sakit. Saat itu juga ia segera dibawa ke RS Jatisampurna.

Kehilangan Mendalam

Sesampainya di sana, dokter telah memberikan kode plus, yang menandakan jika Sunaryo, dalam usianya 54 tahun, telah berpulang. Sekitar pukul 05.00 WIB, semua yang mengantar ke RS tertunduk merasa berduka. Mereka telah kehilangan sesosok penting yang telah membantu perjalanan lembaga tersebut sejak awal berdirinya tahun 2008.

Sebelumnya, menurut Mukhotib, Sunaryo ternyata memang memiliki penyakit diabetes melitus yang merupakan penyakit lama yang ia derita. Penyebab meninggalnya almarhum diduga karena diabetes. Mungkin juga dia memiliki penyakit komplikasi.

Kejadian serupa pernah terjadi beberapa bulan lalu. Namun dalam keadaan yang berbeda. Yaitu saat Sunaryo duduk santai di pelataran warung miliknya, yang berada tepat di depan klinik IMS. Saat itu tiba-tiba almarhum pingsan tidak sadarkan diri.

Kini klinik itu kehilangan orang penting yang telah berkontribusi besar dalam berbagai kegiatan. Di mata para karyawan, almarhum adalah sosok yang selalu siap ditugaskan kapan saja, ke mana saja, dan dalam berbagai kegiatan sosial.

Mulai dari banjir ibukota Jakarta, sampai berbagai bencana alam di seluruh Indonesia. Ia siap meluangkan waktu untuk mengantar tim medis yang bertugas. Selain itu, tidak pandang waktu, ia selalu siap berangkat ditugaskan untuk mengantar jenazah ke mana pun.

Sebagai contoh lagi. Sempat, suatu ketika, kala itu pukul 01.00 WIB pagi dinihari. Ada orang yang membutuhkan jasa ambulans. Karena sangat mengenal almarhum, masyarakat sekitar langsung meminta bantuannya. Malam itu juga Sunaryo berangkat mengantarkan jenazah ke wilayah Solo, Jawa Tengah. Itu hanya salah satu kisah kebaikan almarhum. Masih banyak lagi kenangan baik tentang dirinya.

Baru beberapa minggu yang lalu, Sunaryo mengantarkan jenazah salah seorang dai ormas Islam yang dimakamkan di Surabaya.[Baca: Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ustadz Hasan Rofidi Berpulang]

Kini “si pengantar itu diantar” pulang ke kampung halamannya. Sesuai harapan keluarga agar suami, ayah, kakek mereka ditempatkan kembali ke tempat dimana ia dilahirkan. Mungkin bagi mereka kampung halaman adalah tempat kembali terbaik untuk terakhir kalinya.

Sosok Tak Kenal Pamrih

Almarhum adalah pria yang murah senyum, humoris, dan tidak kenal pamrih. Semasa hidup, ia membesarkan anak-anak dengan berbagai pekerjaan yang telah ditekuni. Mulai dari sopir angkutan umum di Jakarta, sopir truk barang antar kota, membuka warung kopi kecil-kecilan, hingga akhirnya bekerja menjadi sopir ambulans.

Pukul 17.00 WIB, jenazah sudah sampai di rumah duka, Kelurahan Pekajangan, Gang 7, RT 4/2, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Jateng. Suasana duka dan tangis kehilangan menyambut kedatangan jenazah.

Meskipun begitu, pihak keluarga berusaha tabah untuk menerima takdir yang telah digariskan. Mereka menerima kepulangan suami, ayah, kakek, sekaligus sepupu yang mereka cintai.

Mereka berusaha tabah merelakan pria periang yang tak pernah marah, selalu menebarkan senyuman, pekerja keras, serta pahlawan bagi keluarganya itu.

“Selamat jalan ‘Pak Yo’!” Sapaan akrab terakhir ini kami lepaskan dengan air mata. Namun kami harus tetap tabah menerima takdir.

“Terima kasih atas perjuangan serta jasamu selama ini. Terima kasih karena selalu siap meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu orang banyak, terima kasih. Semoga semua kebaikanmu dibalas oleh Allah dengan surga yang pantas, serta diampunkan segalanya dosa-dosamu. Aamiin. Selamat jalan ‘Pak Yo’!”.*Afriansyah, petugas IMS

Editor: Muhammad Abdus Syakur

http://m.hidayatullah.com/feature/cermin/read/2016/04/30/93989/kisah-sopir-ambulans-yang-dijemput-ajal-saat-menjemput-jenazah.html#.VyQi06B8rqA

Jumat, 15 April 2016

Perayaan Kelulusan Anak Bangsa

Cara merayakan kelulusan sekolah mungkin menggambarkan keadaan serta kualitas dunia pendidikan atau bahkan keseluruhan dari bangsa. Lulus tentu memberikan suatu kebanggaan, jika siswa telah berhasil menyelesaikan pendidikan. Telah selesai menjalani ujian dan mendapatkan pembekalan untuk mengarungi kehidupan sebagai seorang yang dewasa.

Mencoret-coret pakaian saat mendapatkan kabar kelulusan merupakan budaya anak Indonesia yang tidak jelas kapan pertama kali muncul dan apa manfaat dibalik kegiatan coret-coret seragam itu. Jika kita menggunakan logika bukankah mereka telah menghina seragam kebanggaan mereka dengan mengotorinya. Siapa yang suka jika kebanggaannya dihina tapi mengapa mereka sendiri yang menghina kebanggaannya?

Lambang yang tertera dikantong baju, celana abu-abu penuh kenangan, dan warna putih yang seharusnya menggambarkan hati mereka yang telah berhasil lulus malah dicoreng dengan cat-cat pilox. Harusnya kala lulus warna putih ada dihati dan dituliskan dengan pengalaman dan keberhasilan yang dicapai pada masa depan.

Jelas berbeda dengan negara lain, misal saja Malaysia para siswa merayakan kelulusan dengan menggunakan kebaya rapi dengan penuh syukur wajar negara mereka kini jadi lebih rapi dan teratur tidak tercoret-coret oleh pilox korupsi yang mencolok. Jika ingin melihat negara ini rapi dan tidak lagi dipenuhi oleh coretan yang berantakan maka ubahlah budaya perayaan kelulusan yang layak. Jika tidak mereka yang sedang mencoret-coret kebanggaannya itu jika berkuasa di negeri ini maka wajar saja akan mencoret-coret wajah bangsa ini.

Minggu, 27 Maret 2016

Perang Pemikiran

Apa yang paling berbahaya nan menakutkan untuk ummat muslim pada hari ini? Bukan kecanggihan senjata yang kian hari terus diciptakan untuk pertahanan negara adidaya, bukan pula kekejaman orang-orang yang harus bertanggung jawab atas runtuhnya negara-negara muslim seperti irak, suriah, libya, dan lainnya. Bukan semua itu!!! Yang paling menakutkan dan telah menjajah ummat muslim sejak lama hingga kini yang berhasil membuat pertahanan kita semakin rapuh bahkan telah lapuk oleh suatu perang yang tidak akan pernah ada akhirnya yaitu perang pemikiran.

Pada masa lalu mudah untuk kita ummat muslim memenangkan suatu perang karena kita punya begitu banyak pemikir yang memiliki pertahanan sangat kuat. Meyakini Allah dan Rasulnya dengan sepenuh hati, mempelajari dunia dengan kebenaran tanpa dicampur adukkan dengan suatu kepentingan. Pasukan yang sedikit mampu memenangkan suatu peperangan yang besar, islam bisa menyebar dengan begitu mudah menyentuh hati manusia karena hakikatnya akal manusia tidak bisa menolak suatu kebenaran yang turun dari tuhannya sehingga islam menjadi agama yang benar-benar rahmatan lil alamin.

Maka wajar jika Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam sudah mengingatkan kita sejak jauh-jauh hari jika orang kafir akan menindas kita seperti orang yang menghadapi piring dan mengajak kita makan bersama. Terbukti hari ini, sudah jelas terlihat oleh kita, mereka menawarkan segala kenikmatan didalam piring-piring yang mereka sediakan dengan sopan tapi mengandung ranjau yang jelas menjerumuskan tapi kita tidak juga sadar, bahkan semakin menakutkan dikala kita sadar namun tidak mampu berbuat apa-apa.. kita bagai buih dilautan... Tidak berarti apa-apa, maka penting bagi kita untuk membangkitkan diri yang terlelap dalam kelalaian dunia agar sadar kebenaran perlu ditegakkan, yang sedikit harus dimenangkan. Jika tidak mampu memilah dengan teliti, lumpur kesesatan akan menyebar dengan mudah dikepala kita, dihati kita, bahkan dimana-mana yang kita lihat nampak aman-aman saja padahal disana ada yang bergejolak kencang untuk meruntuhkan apa yang telah kita yakini.

Pada hari ini kondisi telah berbalik, orang-orang kafir menciptakan begitu banyak pemikir kemudian diletakkan pada berbagai titik strategis untuk melemahkan ummat muslim. Mereka hanya perlu sedikit senjata tapi mampu membunuh banyak orang, membunuh kebenaran dihati orang-orang muslim agar berpaling. Pemikir kaum kafir kini sedang berperang diseluruh dunia untuk mengalah kita, untuk melemahkan islam lalu mereka tidak lagi memerlukan senjata fisik, sebagian bahkan telah memetik hasil dari kerja keras mereka. Jika kita hitung banyak korban jiwa dari perang yang nyata dengan korban dari perang pemikiran, mari mulai menilai sendiri dengan kebenaran. Tengoklah disepanjang jalan yang kita lalui setiap harinya, begitu banyak 'mayat pikiran' yang bergelimpangan tak terhitung jumlahnya. Sadar tapi tak mampu berbuat apa-apa itulah mengapa kita menjadi 'buih dilautan'.

Dalam peperangan hari ini melawan orang kafir kita harus mampu menyeimbang antara kekuatan fisik juga kekuatan pikiran. Kita masih memiliki tugas untuk menciptakan para pemikir-pemikir yang kuat dalam meyakini Allah dan Rasul-Nya untuk melawan pemikir-pemikir yang telah terlatih dari kaum kafir. Pemikir yang kaum kafir ciptakan untuk menggeser arti dari kebenaran yang sesungguhnya. Mereka menghiasi dasar pemikiran muslim dengan kesenangan, dengan kenikmatan dunia seperti yang telah nabi sampai jika diakhir zaman kita akan terserang penyakit paling berbahaya yaitu al-wahn (cinta dunia dan takut mati).

Rabu, 23 Maret 2016

Zaskia Gotik, antara Hukuman dan Bullying

Zaskia Gotik yang telah menghina lambang negara, kini dibully oleh berbagai kalangan. Lagi-lagi bisakah kita berpikir cerdas? Banyak yang mengatakan jangan menjadikan pendidikan sebagai alasan ketidaktahuan. Tidak ada yang salah terhadap opini tersebut. Tapi saya mau bertanya lagi berapa banyak orang terdidik yang telah  menghina bukan hanya lambang negara tapi dasar negara? Tapi mereka menghina dengan cerdas sehingga tidak nampak dipermukaan. Bisakah kita Bully mereka, tidak!! karena mereka terdidik untuk pandai mengelak dari apa yang dituduhkan bedanya dengan Zaskia Gotik karena dia tidak terdidik untuk pandai beralasan.

Ricuh Demo Sopir Taksi, Siapa Untung Siapa Rugi?

SIAPA yang bertanggung jawab atas kericuhan dalam unjuk rasa sopir taksi reguler di Jakarta, Selasa (22/03/2016) kemarin? Semua pihak seakan hilang melarikan diri.
Tapi satu hal yang harus kita sadari. Mau sopir taksi reguler seperti Blue Bird, Express, sopir taksi online seperti Uber dan GrabCar, atau pengemudi Go-jek, GrabBike, dll, semua tetaplah anak bangsa, tetaplah rakyat Indonesia yang satu.
Sebagai sopir taksi atau tukang ojek, jalankanlah aktivitas mencari rezeki dengan baik. Bukankah rezeki itu sudah ada yang mengatur? Setiap orang mengerti akan hal itu.
Jika kita berpikir cerdas, di sela-sela mencari nafkah untuk keluarga di rumah, mengapa masih sempat terpikir untuk melakukan aksi kericuhan yang berujung kekerasan?